WeLcome to Hikari's Stories about "Freedom"... Feels free to give comment!! d(^0^)b




Ini Novel gw yang entahlah keberapa...

Tapi, kali ini gw mw coba post di bLog.. dan gw harap kaLian suka... dan buat yang baca,, mohon comment'nya yap?? Jadi, gw bisa Lebih ngembangin cerita.. ^^v
Mungkin agak berbau Jepang, soalnya gw suka banget sama Jepang,. hehe..
arigatou!! ^^v

Tuesday, April 19, 2011

- FIRST- ! -

Apa yang terjadi kalau di dunia ini kesenjangan sosial makin muncul? Si A kaya sekali, punya rumah mewah, mobil banyak, bisa sekolah di tempat yang bagus, bisa bolak-balik ke luar negeri. Sedangkan si B miskin sekali, tidak punya rumah, jangankan sekolah, untuk makan saja susah.

Inilah yang krisis yang terjadi di dunia saat ini. Dimana-mana yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang miskin mau protes, tapi gak didengar pemerintah, sedangkan yang kaya hidup berfoya-foya.

Saat si Kaya makan enak, si Miskin mengais-ngais tempat sampah, mencari makanan sisa. Saat si Kaya pergi ke mall, si Miskin termenung memikirkan cara untuk menghidupi keluarganya. Saat si Kaya tertawa dan bersenang-senang, si Miskin menangis tak tahan karena derita hidupnya. Saat sakit, si Kaya tinggal menelpon dokter pribadinya atau pergi ke rumah sakit ber-title-kan International, tapi si Miskin hanya menunggu obat gratis yang dijanjikan pemerintah yang tak kunjung datang, pada akhirnya mereka berhadapan dengan maut.

Dan, ironisnya... Tokoh utama kali ini adalah si Miskin yang mencoba untuk bertahan hidup dalam kejamnya dunia dan kenyataan. Biasanya seorang anak kecil berpikir, “Aku mau jadi puteri dari negeri dongeng.” Namun, kali ini bukan cerita dari negeri dongeng, tetapi kisah dari seorang cewek yang harus bergulat setiap hari mencari cara untuk hidup.

“Copeeeet!!!!” suara nyaring membahana di pasar yang ramai ini, kerumunan orang langsung terpecah begitu ada beberapa anak yang berlari.

“Kabur cepetan!!!” teriak si Pemimpin Pencopet, yang sayangnya dia adalah tokoh utama cerita ini.

“Wuah!! Gila!! Kaya banget orang ini!! Lima ribu-Lima belas ribu... Wah!! Hampir Lima ratus ribu yen!!!” teriak salah satu pencopet cilik, Ren.

“Yeey!! Makan enak!!” Ion, cowok termuda di kelompok ini langsung berlari kesenangan.

“Kamu hebat banget mencari mangsa, Ume!!” gumam si Jangkung, Iru.

“Hahaha, siapa dulu dong... Tapi, kita musti setor dulu ke Zoe.” jawab Ume, satu-satunya cewek di kelompok ini.

Ume, Ren, Iru, dan Ion adalah sahabat sejak kecil. Entah sejak sekecil apa, saat sadar, mereka sudah bersama. Mereka semua yatim piatu, tidak tau siapa orangtuanya, mungkin saja salah satu dari antara mereka adalah orang kaya. Namun, walaupun begitu mereka gak mengharapkan menjadi kaya. “Orang kaya itu sombong!!” protes Ion suatu hari dan itulah yang memang mereka alami.

Untuk hidup, mereka terpaksa menjadi pencopet dari kota ke kota. Kota asal tempat tinggal mereka adalah kota ini, sebut saja Kota Z (gak ada di atlas, jadi gak usah di cari :lol:). Satu roti dibagi empat? Hal itu sudah biasa. Bahkan kalau sedang sial, mereka malah gak makan sama sekali. Pakaian? Tidak ganti baju seminggu juga gak masalah bagi mereka, asalkan ada pakaian yang melekat di tubuh dan mereka tetap bersama.

Namun, malangnya nasib Ume... Demi bisa menghidupi ketiga adiknya ini (Ume paling tua dan sudah menganggap mereka adik), ia terpaksa berpacaran dengan Zoe, ketua geng berandalan di kota tersebut. Zoe sudah suka padanya sejak lama, tapi Ume gak suka. Ketika sudah kehabisan akal, Zoe mengancam Ume kalau ia akan menghabisi ketiga adiknya ini.

Memang ada untungnya jadi pacar Zoe, tempat tinggal ada, makan juga gak perlu khawatir. Hanya saja, Ume harus membayarnya dengan tubuhnya. Pengalaman pertama yang menjadi impian setiap cewek untuk dilalui bersama sang suami saat menikah, malah harus ia lalui dengan Zoe. Dengan kata lain, Ume sudah tidak virgin.

Seringkali Ume menangisi hal itu, tapi ia gak mampu berbuat apa-apa. Seringkali Ume merendam tubuhnya di sungai, berharap dirinya bersih lagi, tetapi hal itu gak bisa mengubah kenyataan. Malangnya lagi, cewek Zoe bukan hanya Ume!! Zoe punya 2-3 cewek, hanya saja memang kesayangannya itu Ume. “Hidup ini gak adil...” isak Ume setelah Zoe memaksanya, ia menangis di depan Gin, teman Ume yang juga sahabat Zoe.

“Ume!! Masuklah!!” sambut Zoe ketika melihat Ume yang berada di ambang pintu markas mereka. Dengan langkah lunglai dan ogah, Ume mendekati Zoe diikuti dengan Ren, Ion, dan Iru. “Aku meminta Ume yang masuk, bukan kalian.” Tegur Zoe.

“Mereka adikku, Zoe!!” tegur Ume.

“Oke-oke. Masuklah.” Jelas Zoe pada mereka bertiga. “Ada apa?” tanya Zoe seraya menyentuh pipi Ume, serentak Ume langsung menghindar.

“Setoran.” Jawab Ume singkat seraya menyerahkan dompet yang baru saja mereka copet.
“Yo, Gin!” sapa Ume pada Gin yang berdiri di dekat Zoe.

“Wah, hebat sekali. Tiga ratus lima puluh ribu yen… Kamu memang jago memilih mangsa.” Gumam Zoe seraya memilah-milah uang tersebut, kemudian ia menyerahkan seratus lima puluh ribu yen pada Ume.

“Thanks.” Jelas Ume pada Zoe. “Aku pergi dulu. Dan Gin!!” Tambahnya seraya menarik tangan Ion meninggalkan Zoe dan markasnya.

“Hei, Gin.” Panggil Zoe pada Gin, sahabatnya yang berdiri si sebelahnya.

“Hm?”

“Apa Ume masih belum bisa suka padaku ya?” tanya Zoe.

“Kalau mau disukai olehnya, bersikaplah baik dengan adik-adiknya itu. Kamu malah mengancam dan memperlakukan mereka seperti itu. Jelas saja Ume marah padamu.” Jelas Gin.

“Haaaah…” Zoe menghela napas panjang.

Kembali ke si Tokoh utama. Keempat sahabat ini langsung kabur ke markas kecil mereka yang cukup jauh dari sana. Markas alias tempat tinggal yang diberikan Zoe, memang gak besar. Letaknya di pedalaman gang-gang kecil yang kumuh, tapi setidaknya tempat ini cukup bersih. Hanya satu ruangan, tetapi bagi mereka tempat ini lebih dari cukup, dibandingkan dengan tempat tinggal mereka dulu sebelum bertemu dengan Zoe.

“Hehe, kita lolos.” Gumam Ren seraya menghitung tabungan mereka saat ini. Rupanya gak semua uang yang mereka dapat tadi disetor.

"Dalam hidup, kita harus licik sedikit.” Jelas Ume terkekeh pelan. “Dengan begini, kita bisa makan enak dan bisa merayakan ulang tahun Ion minggu depan.” Jelas Ume seraya mengacak-acak rambut Ion. “Oke, kalau begitu, aku mau kerja sambilan dulu. Kalian jangan kemana-kemana, tetap disini. Pulang nanti aku akan bawakan makanan sisa dari tempat kerja.” Jelas Ume.

Banyak orang yang lebih sengsara dari Ume, setidaknya Ume masih bisa bekerja dan sejak jadian dengan Zoe, ia bisa hidup agak enakkan. Walaupun harapannya lebih dari itu, ia ingin bersekolah bersama keempat adiknya itu. “Yo!”

“Kau telat! Jangan kau pikir mentang-mentang kamu cewek, kamu bisa kendor ya!!”

“Iya-iya… Cerewet ah.” Protes Ume pada mandor tempatnya ia bekerja.
Ume memang bisa bekerja, tetapi pekerjaan yang sebenarnya buka untuk anak cewek. Apa gerangan pekerjaannya? Kuli bangunan? Hampir… Yang benar adalah pekerja konstruksi jalan. Tempat ini tadinya gak mau menerima Ume, tetapi setiap hari Ume datang dan memohon-mohon, untung saja Ume itu rajin. Hanya ada satu tantangannya, di sini di larang mencuri dan Ume adalah pencuri gadungan yang sedang menjadi buronan polisi.

“Kenapa kamu memilih pekerjaan ini sih, Ume?” tanya Yoru, teman sekerjanya. “Kamu kan cewek, kamu juga cukup cantik, setidaknya bisa jadi model dan kamu bisa dapat uang banyak.” Jelasnya.

“Dan tersenyum setiap saat dimana pun dan kapan pun? Gak deh, makasih.”

- ! -


BRAK, meja besar yang terbuat dari kayu mahal digebrak dengan sangat keras. Siapa yang menggebraknya? Jawabannya adalah si Kepala Kepolisian di Kota Z ini. “Bagaimana sih?? Sudah berapa laporan yang mengadukan pencopetan itu??” ledaknya marah.

“Maaf, Pak. Pelakunya sangat gesit, tubuhnya kecil dan lincah seperti monyet.” Jawab polisi bawahan.

“Saya tidak mau tau!! Segera tangkap pelakunya!!

“Siap!!” Kali ini para polisi sudah memasang status siaga apa yang akan diperbuat oleh Ume dan kawan-kawan?? Namun, siapa tau... Kalau adanya perintah dari Kepala Polisi untuk memasang status 'siaga' adalah awal dari pertemuan Ume dengan seseorang?